Buyer persona adalah strategi yang bisa kamu lakukan untuk mengetahui konsumen secara mendalam. Sebuah bisnis tentunya harus mengetahui keinginan customernya untuk mengetahui target pasar yang bisa mereka tetapkan.
Sebanyak 90% pebisnis menyatakan bahwa menggunakan buyer persona membantu mereka untuk memahami audiensnya secara lebih dalam. Dikarenakan tanpa adanya informasi mengenai target pasar yang ideal untuk bisnis, maka kamu akan kesulitan dalam mendapatkan dan menetapkan konsumen.
Tertarik mengetahui apa itu buyer persona? Simak artikel ini sampai akhir!
Apa Itu Buyer Persona?
Buyer persona adalah representasi target pelanggan ideal yang dibuat berdasarkan research data pelanggan yang dilakukan oleh bisnis. Buyer persona merupakan deskripsi dari pelanggan ideal fiktif yang membutuhkan produk bisnismu seperti masalah yang mereka miliki dan bagaimana mereka melihat produkmu.
Semakin detail suatu buyer persona, maka semakin akurat pula target pasar yang bisa ditargetkan oleh bisnis. Agar buyer persona semakin detail, kamu dapat melakukan wawancara dan berinteraksi secara langsung dengan konsumen agar datanya lebih natural.
Buyer persona yang dibuat harus memiliki komponen seperti data diri, tingkah laku, kebiasaan berbelanja, demografi, tujuan, dan lain sebagainya. Tujuan utama dari buyer persona sendiri adalah mempermudah kegiatan pemasaran sekaligus inovasi produk.
Manfaat Buyer Persona
Berikut adalah beberapa manfaat yang bisa didapatkan dari penggunaan buyer persona, di antaranya:
- Memahami kebutuhan pelanggan.
- Memahami permasalahan yang dihadapi pelanggan.
- Target audiens yang ditargetkan tersegmentasi.
- Kegiatan pemasaran menjadi optimal dan efisien.
- Mengidentifikasi buyer persona yang tidak sesuai untuk bisnis.
- Meningkatkan tingkat kesuksesan pemasaran.
Cara Membuat Buyer Persona
Berikut adalah beberapa langkah yang perlu dilakukan dalam membuat buyer persona dengan tepat, yaitu:
1. Lakukan research secara mendalam
Langkah pertama dalam membuat buyer persona adalah melakukan research tentang pelanggan ideal. Dalam tahapan ini, kamu dapat mengumpulkan data sebanyak-banyaknya untuk dibandingkan satu sama lain nantinya.
Kamu dapat memanfaatkan informasi dari pelanggan yang sudah ada atau melakukan survei, wawancara, dan metode lainnya. Data yang dapat dikumpulkan pada tahapan antara lain adalah usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendapatan, minat, tingkah laku, kebiasaan berbelanja, preferensi, dan lain sebagainya.
2. Ketahui masalah yang dihadapi pelanggan
Setelah mengumpulkan data diri pelanggan, langkah selanjutnya adalah mengetahui masalah apa yang dihadapi oleh pelanggan.
Untuk mengetahui hal ini, kamu dapat mengumpulkan data lewat wawancara, survei, social media, forum diskusi, dan lain sebagainya.
3. Identifikasi tujuan pelanggan
Langkah selanjutnya adalah mengetahui tujuan mereka menggunakan produk atau layanan milikmu. Seperti yang kita ketahui, tujuan dari setiap pelanggan tentunya berbeda-beda.
Dengan memahami tujuan pelanggan membeli atau menggunakan produk atau layananmu, kamu dapat menyesuaikan produk atau konten promosi sesuai dengan harapan dan kebutuhan mereka.
4. Pahami cara agar bisnis bisa menjadi solusi
Setelah memahami masalah dan tujuan pelanggan, langkah selanjutnya adalah memikirkan bagaimana bisnis milikmu bisa menjadi solusi atau jalan keluar dari masalah yang dihadapi oleh pelanggan.
Dengan melakukan hal ini, kamu juga bisa mendapatkan ide inovasi produk atau bahkan ide produk baru. Caranya hanyalah dengan memahami produk atau layananmu secara mendalam dan menempatkan dirimu di posisi pelanggan.
5. Kategorisasi pengguna
Setelah data dari langkah di atas sudah terkumpul, maka kamu dapat membaginya kedalam beberapa kategori seperti berikut:
- Methodical persona: tipe pelanggan yang logis dan selalu teliti dalam tindakannya.
- Humanistic persona: tipe pelanggan yang lama dalam membuat keputusan sehingga harus diberikan dorongan.
- Competitive persona: tipe pelanggan yang gemar terhadap kompetisi dan pengembangan diri.
- Spontaneous persona: tipe pelanggan yang mengambil keputusan berdasarkan emosi dan mudah untuk dipengaruhi.
6. Membuat buyer persona negatif
Langkah terakhir adalah menciptakan buyer persona negatif, yang di mana berkebalikan dengan target pasar ideal yang dibentuk sebelumnya. Buyer persona negatif adalah orang yang tidak termasuk kedalam target pasar yang anda targetkan.
Misalnya adalah bisnis butik high end yang menargetkan individu yang memiliki gaji dibawah 5 juta.
Contoh Buyer Persona
Berikut adalah contoh dari buyer persona yang bisa kamu jadikan referensi, yaitu:
| Nama | Michelle |
| Demografi |
|
| Hobi & Minat |
|
| Gaya hidup |
|
| Tujuan/Motivasi |
|
| Sumber informasi |
|
| Tantangan/Masalah |
|
Sudah Paham Apa Itu Buyer Persona?
Buyer persona merupakan representasi target pasar ideal yang ingin ditargetkan oleh bisnis. Dengan memiliki buyer persona yang detail dan jelas, bisnis dapat menentukan konsumen dan audiens yang cocok dan efektif untuk ditargetkan.
Hal ini tentunya akan membuat biaya atau sumber daya yang dikeluarkan untuk promosi menjadi tidak sia-dia dan mendapatkan hasil yang efektif. Cara membuat buyer persona sendiri juga cukup mudah dan bisa disesuaikan dengan bidang bisnis yang dijalani. Demikian artikel ini, semoga membantu ya!
