Jika kamu baru pertama kali memulai bisnis, maka white label adalah salah satu pilihan yang bisa kamu jadikan pertimbangan. White label merupakan pilihan yang cocok untuk pebisnis pemula yang tidak ingin mengambil risiko untuk memproduksi produk secara pribadi.
Dikarenakan white label tidak memerlukan modal yang besar dan risiko kegagalannya relatif rendah. White label juga mempermudah kegiatan branding dan bisnis dapat berkembang dengan lebih cepat dan stabil.
Simak artikel ini untuk mengetahui apa itu white label secara mendalam!
Apa Itu White Label?
White label adalah istilah yang digunakan untuk produk yang diproduksi oleh suatu perusahaan, namun dijual kepada perusahaan atau individu lain untuk dijual kembali menggunakan merek dagang milik mereka. Produk white sendiri hanya bisa dibeli dari produsen berdasarkan ketentuan yang mereka terapkan.
Dalam proses penjualannya, pihak produsen tidak bertanggung jawab dalam segi pemasarannya. Dikarenakan semua kegiatan pemasaran dilakukan oleh pihak yang memesan produk tersebut. Pemasaran white label sendiri cukup mudah ditemukan, di mana nama produk biasa mengandung nama dari perusahaan pemasarnya.
Contoh dari white label seperti perusahaan yang bergerak di bidang IT membuat aplikasi dan kemudian menjualnya kepada perusahaan lain. Perusahaan yang membeli nantinya akan menjual aplikasi tersebut menggunakan merek perusahaan mereka kepada pelanggannya.
Cara Kerja White Label
Berikut adalah rincian cara kerja white label dari awal hingga akhir, yaitu:
1. Produsen membuat produk
Tahapan pertama dari white label adalah perusahaan manufaktur memproduksi produk seperti makanan, minuman, pakaian, aplikasi, dan lain sebagainya, yang tidak memiliki label. Label yang dimaksud dapat berupa nama, logo, atau hal apapun yang menunjukkan perusahaan manufaktur sebagai pembuat produk.
Dalam membuat label ini, kamu dapat memanfaatkan white label marketing tools untuk mempermudah kegiatan white labelling.
2. Produsen menjual produknya kepada pemasar
Produk yang telah dibuat tersebut akan dijual kepada perusahaan atau individu yang tertarik. Pemasar nantinya dapat menggunakan label dagang pribadi di produk yang dijual tersebut. Produk tersebut dapat dijual secara online maupun offline.
Contohnya adalah pedagang baju di Tanah Abang yang menjual kembali menggunakan merek dagang mereka dan toko ritel besar seperti Kirkland, Aldi, dan Trader Joe’s.
3. Pemasar melakukan survei ke beberapa produsen
Pemasar tentunya tidak akan membeli produk secara sembarangan. Biasanya para pemasaran akan melakukan survei dari satu tempat ke tempat lainnya, guna menemukan produk yang sesuai dengan kriteria dan kualitas yang mereka inginkan.
Hal ini tentunya tidaklah mudah; karena jumlah perusahaan manufaktur sendiri cukup banyak. Maka dari itu, tahap ini membutuhkan waktu dan uang yang tidak sedikit.
4. Pemasar membeli produk dan membuat label dagang
Setelah survei dilakukan dan pemasar menemukan perusahaan manufaktur yang memiliki produk yang sesuai, maka transaksi pun akan dilakukan. Jumlah produk yang dibeli biasa akan disesuaikan dengan ketentuan produsen atau kebutuhan dari pemasar.
Nantinya pemasar akan membuat label/merek dagang mereka sendiri untuk digunakan di produk. Tujuannya adalah agar produk terlihat lebih menarik dan dipercaya sebagai milik mereka.
5. Produk dipasarkan atas label dagang pemasar
Produk yang dibeli tersebut akan sepenuhnya dipromosikan oleh pemasar secara menyeluruh. Dikarenakan perusahaan manufaktur hanya bertugas dalam memproduksi produk dan bukan memasarkannya.
Pemasar dapat membuat website resmi, memasang iklan di social media, dan lain sebagainya. White label berfokus pada anonimitas, yang di mana pembeli tidak boleh mengetahui bahwa produk yang mereka beli sebenarnya tidak memiliki merek.
Keuntungan dan Kekurangan White Label
Berikut adalah keuntungan dan kekurangan yang didapat dari bisnis white label, di antaranya:
Keuntungan white label:
- Tidak membutuhkan biaya produksi.
- Fleksibilitas dalam melakukan branding.
- Lebih hemat waktu.
- Dapat berfokus pada promosi produk.
- Memperluas jangkauan pasar.
- Risiko kegagalan yang relatif rendah.
Kekurangan white label:
- Produk bisa sama dengan pemasar lainnya.
- Kualitas produk tidak terjamin.
- Tidak bisa meminta custom produk.
- Mudah untuk dibandingkan dengan kompetitor.
- Persaingan yang ketat di pasar.
Contoh Produk White Label
Berikut adalah beberapa contoh produk yang familiar di ranah white label, di antaranya:
- Produk digital: software, aplikasi, cloud-based product.
- Produk kecantikan: suplemen, sabun, parfum, cream wajah.
- Produk elektronik: charger, earphone, speaker, aksesoris elektronik.
- Produk F&B: kopi, teh, minuman, produk kalengan.
- Produk travel: tiket perjalanan, tiket hotel, bundle liburan, tiket masuk wisata.
Sudah Tahu Apa Itu White Label?
Setelah membaca artikel di atas, apakah kamu pernah menemukan produk white label di sekitarmu? Produk white label sendiri sebenarnya cukup mudah untuk ditemukan. Kamu bisa membandingkan 2 produk yang terlihat sama namun memiliki merek dan kemasan yang berbeda.
Bisnis white label cukup digemari dan bahkan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar seperti Trader Joe’s dan Amazon Basics. Jika kamu tertarik melakukan bisnis white label, pastikan produk yang kamu ingin jual tidak terlalu populer sehingga mudah memasuki pasar. Demikian artikel ini, semoga bermanfaat ya!
